Permintaan Semen Naik Saat Harga Batubara Turun, Ini Katalis Positif Emiten Semen

Permintaan semen bakal meningkat karena adanya pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, harga batubara perlahan melandai yang akan menjadi katalis positif bagi emiten sektor semen.

Research Analyst Reliance Sekuritas Ayu Dian melihat adanya peningkatan permintaan semen dari adanya pembangunan infrastruktur yang tercermin dari naiknya anggaran infrastruktur. Asosiasi Semen Indonesia bahkan telah memproyeksikan peningkatan permintaan semen untuk tahun ini sebesar 4%.

“Pemerintah Indonesia bakal menggenjot proyek infrastruktur nasional yang sempat tertahan selama covid-19,” ujar Ayu kepada Kontan.co.id, Kamis (6/4).

Permintaan semen yang diperkirakan meningkat di tahun ini sekaligus bisa mengatasi masalah oversupply pada industri semen nasional. Pasalnya, kelebihan suplai pada tahun lalu belum mampu ditangkap dengan baik karena permintaan semen yang masih lemah. Kapasitas produksi semen nasional naik menjadi 116.8 juta ton pada tahun 2022 dibandingkan 113.8 juta ton pada tahun 2021.

Kendati demikian, Ayu menjelaskan, emiten sektor semen sudah berupaya untuk menekan produksi yang tinggi. Misalnya langkah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengakuisisi PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) ataupun PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang bekerja sama dengan PT Bosowa Maros berpotensi untuk menyinergikan dan mengoptimalkan produksi semen.

Analis Ciptadana Sekuritas Muhammad Gibran mengatakan, Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan Rp 392 triliun untuk belanja infrastruktur pada tahun 2023 yang menyiratkan pertumbuhan year on year (YoY) sebesar 7%. Presiden Jokowi tetap berkomitmen pada pembangunan infrastruktur dan diharapkan untuk mengalokasikan sebagian besar anggaran untuk menyelesaikan proyek yang sedang berlangsung. Tender diperkirakan akan tetap lunak menjelang tahun pemilihan umum 2024.

Pembangunan infrastruktur bakal mendukung permintaan terutama pada segmen semen curah. Dalam catatan Ciptadana Sekuritas, semen curah mengalami peningkatan kontribusi dari total permintaan semen sebesar 23% pada tahun 2021 menjadi 27% pada tahun 2022 yang didukung oleh kebangkitan pembangunan infrastruktur pasca pandemi.

Gibran menilai pemindahan Ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Nusantara di Kalimantan Timur sebagai langkah transformatif bagi infrastruktur Indonesia jangka panjang dan akan membawa permintaan baru bagi industri semen.

Sementara itu, penurunan harga batu bara diperkirakan akan memangkas biaya produksi untuk beberapa produsen semen di 2023 dan 2024. Analis pertambangan Ciptadana Sekuritas memproyeksikan harga rata-rata batubara diproyeksikan turun menjadi US$ 220 per ton pada tahun tahun 2023 dan US$ 160 per ton di 2024.

“Penurunan harga batubara termal diperkirakan akan meredakan biaya bahan bakar bagi produsen semen,” tulis Gibran dalam riset tanggal 21 Februari 2023.

Gibran menjelaskan, harga patokan batubara Indonesia naik rata-rata 78% YoY menjadi US$ 281,48 per ton pada tahun 2022. Naiknya harga batubara mempengaruhi biaya bahan bakar dan energi produsen semen yang merupakan 35%-50% dari Cost of Good Solds (COGS) atau harga pokok penjualan. Sebagian besar biaya bahan bakar dan energi berasal dari batu bara atau setara 70% berasal dari batu bara.

Ayu memandang harga batu bara yang telah menyentuh level sekitar US$ 198 saat ini sudah cukup baik untuk mengurangi beban biaya produksi. Hal ini dapat meningkatkan gross profit alias laba kotor emiten sektor semen di tahun 2023.

Hanya saja, pemerintah berencana memberlakukan kebijakan Zero Over Dimension Over Load (ODOL) atau muatan berlebihan yang akan berlaku bertahap pada tahun ini. Biaya transportasi sendiri berkontribusi cukup besar dari total beban usaha emiten semen.

“Sehingga, kenaikan beban transportasi dapat menekan margin operasi perusahaan,” sambung Ayu.

Analis Samuel Sekuritas Daniel Aditya Widjaja menilai, regulasi zero odol tentunya akan berdampak besar bagi industri semen mengingat proses distribusi terutama semen kantong, kebanyakan dilakukan dengan truk. Bagi SMGR, biaya transportasi dan biaya pengiriman menyumbang sekitar 39,0% dari total biaya operasional. Sementara, INTP mencatat biaya transportasi dan biaya pengiriman sekitar 62,6%.

“Peraturan Zero Odol dapat menyebabkan lonjakan besar pada biaya operasional kedua perusahaan tersebut,” ungkap Daniel dalam riset tanggal 16 Februari 2023.

Di sisi lain, Daniel sepakat bahwa penurunan harga batubara bakal menjadi katalis positif bagi industri semen. Terlebih, SMGR dan INTP sudah mengamankan pasokan batubara dengan harga Domestic Market Obligation (DMO).

Gibran menambahkan, kenaikan Average Selling Price (ASP) alias harga jual rata-rata juga akan menjadi katalis positif untuk emiten semen. Misalnya ASP produk milik INTP dan SMGR diproyeksikan meningkat sekitar 5% pada tahun 2023 dan 2024.

Meskipun adanya kenaikan ASP, pangsa pasar INTP dan SMGR pun nampaknya masih akan stabil. Sebagai gambaran, INTP dan SMGR sempat mengerek harga jual sebanyak tiga kali lipat di sepanjang tahun lalu. Pada Januari 2023, pangsa pasar INTP masih terpantau naik menjadi 28,8% dari 24,6% di Desember 2022 dan pangsa pasar SMGR juga meningkat menjadi 50,4% dari 46,5% di Desember 2022.

Sumber : kontan.co.id